1. UNESCO (1988) mendeklarasikan empat pilar pembelajaran. Sebutkan dan jelaskan!
2. Metode pembelajaran ISBD menempatkan mahasiswa sebagai subjek didik, mitra belajar,anggota masyarakat, dan warga negara. Jelaskan konsep tersebut!
3. Visi ISBD ”Mahasiswa selaku individu dan makhluk sosial yang beradap memiliki landasan pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka, dan arif dalam menghadapi persoalan sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat”. Jelaskan visi ISBD tersebut sehingga mudah dipahami!
4. Jelaskan misi bahwa ISBD dapat memberikan pengetahuan dan wawasan tentang keragaman, kesetaraan dan martabat manusia sebagai individu dan makhluk social dalam kehidupan masyarakat!
5. Jelaskan misi bahwa ISBD dapat memberikan dasar-dasar nilai estetika, etika, moral, hukum, dan budaya sebagai landasan untuk menghormati dan menghargai antara sesama manusia sehingga akan terwujud masyarakat yang tertib, teratur, dan sejahtera!
6. Jelaskan misi bahwa ISBD dapat memberikan dasar-dasar untuk memahami masalah sosial dan budaya serta mampu bersikap kritis, analitis, dn responsif untuk memecahkan masalah tersebut secara arif di masyarakat!
7. Jelaskan bahwa ISBD bertujuan mengembangakan kesadaran mahasiswa untuk menguasai pengetahuan tentang keragaman dan kesaraan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat!
8. Jelaskan bahwa ISBD bertujuan menumbuhkan sikap kritis, peka, dan arif pada mahasiswa dalam memahami dan memecahkan masalah sosial budaya dengan landasan nilai estetika, etika, moral, dan hukum dalam kehidupan bermasyarakat!
9. Jelaskan bahwa ISBD bertujuan memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal hidup bermasyarakat, selaku individu dan nmakhluk sosial yang beradab dalam mempraktikkan pengetahuan akademik dan keahliannya!
10. Jelaskan sifat hakiki kebudayaan !
JAWABAN:
1. UNESCO adalah organisasi PBB yang bergerak dalam bidang pendidikan dan kebudayaan telah mencanangkan empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan, yang perlu dikembangkan oleh seluruh lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan formal.
Empat pilar tersebut ialah:
(1) learning to Know (belajar untuk mengetahui),
(2) learning to do (belajar untuk terampil melakukan sesuatu),
(3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan
(4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).
Dalam rangka merealisasikan learning to know, tenaga pendidik seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator yang dapat menuntun atau mengarahkan para peserta didik dalam memecahkan suatu masalahnya. Di samping itu, seorang tenaga pendidik dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan peserta didik dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu.
Learning to do, akan bisa berjalan jika lembaga pendidikan memfasilitasi para peserta didik untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan individu kedepannya.
Learning to be erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang aktif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran tenaga pendidik sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri peserta didik secara maksimal.
Learning to live together, peserta didik sudah harus dibiasakan untuk hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima, perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses belajar untuk menjalani kehidupan bersama.
2. Dasar Yuridis
Mata Kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB) di perguruan tinggi, seperti tercantum dalam Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas RI No. 38 Tahun 2002 Pasal 1 yang menyatakan bhwa: “Mahasiswa memiliki landasan pengetahuan, wawasan, dan keyakinan sebagai bekal hidup masyarakat selaku individu dan makhluk sosila yang beradap serta bertanggung jawab terhadap sumber daya alam dan lingkungannya”. Metode pembelajaran yang digunakan oleh dosen dalam pasal 5, harus menempatkan mahasiswa sebagai subjek didik, mitra dalam proses pembelajaran, anggota masyarakat, dan warga negara. Pendidikan tinggi diharapkan mampu menghasilkan mahasiswa yang unggul secara intelektual, angyn secara moral, kompeten menguasai iptek, serta memiliki komitmen tinggi untuk berbagai peran sosial (Hamdan Mansoer, 2001, hlm. 3).
Harapan DIKTI di atas, sejalan dengan Deklarasi UNESCO Oktober 1998 tentang kesepakatan Perguruan Tinggi, yang intinya sebagai berikut:
1. Pendidikan Tinggi abad XXI harus memainkan peran sebagai suatu komponen vital dari pembangunan budaya, sosial, ekonomi dan pilitik sebagai suatu tiang penyangga dalam pembentukan kemampuan masyarakat untuk demokrasi dan perdamaian.
2. DIKTI harus merancang fungsi prospektifnya melalui analisis berkelanjutan tentang kegawatan sosial, ekonomi, budaya dan kecenderungan politik, serta bertindak sebagai pemandu dalam mengatasi bencana, mampu melihat ke masa depan, mengantisipasi dan menyiapka peringatan perdana.
3. DIKTI harus sadar akan perannya sebagai pelayan masyarakat, dan harus berusaha agar tyerjamin keseimbangan antara misi pendidikan dan sosial.
3. Manusia dalam kehidupan mengalami pengalaman hidup yang penuh makna, bahkan aktivitas sosial dan budayanya pun di pengaruhi oleh pola-pola makna yang memberdayakan hidupnya. ”Pendidikan umum merupakan proses pembangkitan makna-makna yang esensial yang membimbing pelaksanaan hidup manusia melaluiperluasan dan pendalaman makna-makna tadi”. Makna-makana esensial yang melekatdalam kehidupan masyarakat dan budaya manusia meliputi enam pola, yaitu simbolik, empirik, estetik, sinoetik, etik, dan sinoptik. Makna simbolik meliputi bahasa , matematik, termasuk juga isyarat-isyarat, upacara-upacara, tanda-tanda kebesaran, dan sebangsanya. Makna simbolik ini sangat berarti dalam kehidupan bermasyarakat-berbudaya manusia. Makna empirik mencakup ilmu kealaman, hayati, kemanusiaan. Makna empirik ini mengembangkan kemampuan teoritis, konseptual, analitis, generalisasi berdasarkan fakta-fakta, dan kenyataan yang bisa diamati. Makna estetik meliputi sebagai seni seperti musik, karya seni, kesenian, satra, dan lain-lain. ke dalam kawasan makna estetik ini, termasuk hal-hal yang berkenaan dengan keindahan dan kehalusan, keunikan menurut persepsisubjektif berjiwa seni. Makna sinoetik berkenaan dengan perasaan, kesan, penghayatan, dan kesadaran yang mendalam. Kedalam makna ini termasuk empati, simpati, dan sebangsanya. Makan etik berkenaan dengan aspek-aspek moral, akhlak, perilaku yang luhur, tanggung jawab, dan sebangsanya. Makna sinoptik berkenaan dengan pengertian-pengertian yang terpadu dan mendalam seperti agama, filsafat, pengetahuan sejarah yang menuntut nalar masa lampau, dan hal-hal yang bernuansa spiritual.
4. Ilmu Sosial Budaya Dasar memberikan pengetahuan dan wawasan dalam bagaimana kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dimana dalam kehidupan tersebut terdapat keragaman , kesetaraan , dan martabat manusia .
5. Ilmu Sosial Budaya Dasar memberikan pengarahan kepada kita bahwa dalam ISBD , kita dapat memahami apa itu nilai estetika , moral , dan budaya . sebagaimana kita menerapkan nya dalam kehidupan sehari hari agar menjadi landasan kita dalam menghormati orang sehingga timbullah kesejahteraan antar Sesama.
6. Ilmu Sosial Budaya Dasar memberikan pengarahan bagaimana menyikapi masalah sosial dan budaya yang terjadi dalam lingkungan bermasyarakat dengan berfikir secara kritis , analisis dan responsive.
7. ISBD sendiri memiliki tujuan bagaimana mengembang kan kesadaran mahasiswa untuk menguasai pengetahuan tentang keragaman (ras , suku, budaya, bahasa) dan kesetaraan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.
8. Dalam kehidupan bermasyarakat kita selalu dihadapkan dengan masalah-masalah sosial , yang seiring dengan masalah tersebut , menumbuhkan sikap kritis , peka , dam arif.
Untuk menyelesaikan masalah tersebut harus berlandaskan nilai estetika , etika , moral.
9. ISBD memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas ketika dihadapakan dengan masalah sosial, bagaimana cara kita mengatasi nya memberikan perhatian.
Comments
Post a Comment